Pages

Rabu, 22 Desember 2010

Makalah Sejarah Kebudayaan Islam di Jazirah Arab


PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN AGAMA DAN
KEBUDAYAAN ISLAM DI JAZIRAH ARAB

Arab Sebelum Islam
1.Keadaan Alam dan Kehidupan Masyarakat
Arab Selatan
Didaerah Arab Selatan, Curah hujan cukup banyak masyarakatnya hidup dengan bercocok tanam, sehingga tingkat peradabannya cukup tinggi. Disamping itu, letaknya didalam dunia perdagangan sangat strategis (antara India dan Mesir). Di daerah Kerajaan serba meliputi Kerajaan yaitu Kerajaan Saba. Daerah Kerajaan Saba meliputi daerah Yaman sekarang. Bangsa Saba mempunyai sistem pengairan yang baik. Terbukti dari adanya bendungan Ma’rib yang terkenal itu. Kerajaan Saba banyak mendirikan daerah-daerah Koloni di Afrika (Pantai Laut Merah). Daerah kolonialnya yang terkenal diantaranya adalah Abessyara (Habashat). Kerajaan Saba runtuh pada tahun 575 SM ketika ditundukkan oleh Iran.
Arab Tengah
Sebagian besar daerahnya merupakan gurun pasir. Penduduknya hidup berkelompok dan biasa disebut dengan suku Badawi. Mereka hidup dari hasil peternakan dan perampasan kafilah-kafilah yang melewati daerah itu. Mereka adalah pemberanai yang suka sekali berperang dan tidak mau tunduk kepada siapapun.
Disebut barat daerah Arab Tengan terdapat jalur perjalanan yang biasa digunakan para kafilah untuk membawa barang-barang dari Asia dibawa ke syaria diteruskan ke Eropa (Romawi).
Arab Utara
Arab Utara berbatasan dengan daerah-daerah yang sudah maju seperti Romawi dan Iran. Daerah ini juga dengan jalur jalan raya Mesir-Romawi-Iran yang bertemu di daerah Palestina merupakan daerah yang menjadi pusat peradaban tinggi sejak jaman dahulu. Orang-orang Arab yang berada di daerah itu sudah banyak mendapat pengaruh peradaban asing. Banyak dari mereka yang sudah masuk agama Kristen atau Yahudi bahkan mereka pernah mempunyai Kerajaan sendiri yang bernama kereja Nabatea dengan ibukotanya Petra (+ 200 SM-105 M) dan setelah itu Kerajaan Palmyra (+ 250-273 M).
Kemudian muncul Kerajaan Ghassan (di syrra) yang memihak Romawi dan Kerajaan Hira (di Irak) yang memihak Iran, kedua Kerajaan Arab ini tenggelam ketika Islam mulai bergerak ke luar Arabia.
2. Tata Kehidupan Sosial
Masa Arab sebelum islam dikenal dengan sebutan zaman Jahiliya. Pada masa ini bangsa tidak mempunyai pemerintahan yang rapi, karena tatanan kehidupan mereka hanya diatur menurut kebiasaan yang diwariskan oleh leluhur mereka. Mereka hidup berpindah tempat untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Hal ini juga dipengaruhi oleh lingkungan tanah Arab yang bergurun pasir dan bergunung- gunung.
Mereka yang merupakan bangsa pemberani didalam membela pendiriannya bahwa kalau perlu mereka berperang sampai titik darah penghabisan dalam mempertahankan kepribadiaan Arabnya.
3. Adat Istiadat
Bangsa Arab pada zaman sebelum islam mempunyai adat istiadat penuh dengan takhayul. Mereka juga dipandang memilki akhlak yang tidak pantas seperti bermain judi, minum-minuman keras, dan berfoya-foya. Bahkan mereka melakukan pencurian dan perampokan pada suku-suku yang lain, kalau tertangkap menimbulkan perselisihan dan akhirnya terjadi peperangan antar suku bangsa di Arab.
Ada juga suku bangsa di Arab yang biasa melakukan tindakan kekejaman yaitu dengan mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Menurut kepercayaan, anak perempuan dipandang tidak berguna dan orang tuannya merasa hina jika memiliki anak perempuan.
4. Kepercayaan Bangsa Arab Sebelum Islam
Asal mula bangsa arab menyembah berhala adalah ketika Ka’bah berada dalam kekuasaan Jurhum. Ada pasukan yang dipimpn oleh Amir bin Luhay datang ke Mekkah dan berhasil mengalahkan Jurhum kemudian Amir bin Luhay meletakkan sebuah berhala besar yang bernama Hubal disisi Ka’bah dan memerintahkan penduduk Hijaz agar menyembah berhala itu. Sejak saat itulah, bangsa Arab menyembah berhala sampai suku bangsa Quraisy berkuasa kembali di Higas.
Disamping penyembah berhala, bangsa Arab juga menyembah binatang, jin dan Hantu/syetan. Bila mengharapkan hujan mereka mengikat rumput-rumput pada ekor kambing dan terus dibakar. Sesudah mengenal agama Yahudi dan kristen ada juga sebagian dari bangsa Arab yang memeluk kedua agama itu.
Arab Sesudah Islam
Secara politis, agama islam telah dapat mempersatukan seluruh suku bangsa Arab yang dahulunya terpecah belah dan berhasil membuat bangsa Arab menjadi suatu bangsa yang kuat dan berderajat tinggi, hingga menjadi suatu bangsa yang gilang gemilang.
Agama Islam pertama kali dibawah oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau dilahirkan pada tanggal 20 April 571 M sebagai keturunan dari suku Quraisy. Pada tahun 611 M ia mulai mengajarkan agama islam kepada bangsa arab di mekkah. Ternyata penyebaran agama Islam pertama kali ditentang oleh orang-orang Mekkah, terutama oleh orang Quraisy dibawah pimpinan Abu Sofyan. Maka, pada tanggal 12 Robiul Awal tahun 622 M Nabi Muhammad SAW Hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Nabi Muhammad wafat pada tanggal 8 April 632 M di Madinah. Kemudian kepemimpinan beliau digantikan oleh para Khafilah. Empat orang Khalifah yang pertama disebut Khafilah ur Rasyidin yaitu Abu Bakar Siddik, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib.
Pada masa pemerintahana Khafilah Usman untuk pertama kalinya terjadi perpecahan diantara umat islam yakni antara keluarga Khafilah Usman (Ummayah) dengan keluarga khafilah Ali (Hashim) yang mengakibatkan timbunya Khalifah- khalifah seperti Ummayah, Abbasiyah, Fatimah.
Perkembangan Islam Periode Mekkah
Pada awalnya agama islam hanya berkembang dikota Mekkah dan sekitarnya. Namun awalnya agama islam hanya diterima oleh kalangan bahwa seperti orang miskin, wanita pekerja maupun para budak. Sejak penyebaran agama Islam dilakukan secara terbuka, muncul reaksi perlawanan yang menentang penyebaran islam seperti penyiksaan ,ancaman keselamatan terhadap para pengikut Islam. Sehingga pada tahun 615 Nabi Muhammad SAW mengungsikan pengikutnya ke Habsyah, selanjutnya menjadi Abbesinia (Ethiopia sekarang).
Faktor penyebab terjadinya perlawanan terhadap agama Islam bukan semata-
mata karena masalah agama yang dipandang bertentangan dengan kepercayaan asli
masyarakat, tetapi karena faktor politik, yaitu khawatiran terhadap kemungkinan keluarga Abu Muthalib menguasai Mekkah, faktor ekonomi yaitu menurunnya pendapatan para pemahat patung dan faktor sosial, karena kaum bangsawan atau raja tidak setuju derajatnya disamakan dengan rakyat biasa.
Perkembangan Islam Periode Madinah
Terjadinya perlawanan yang menentang penyebaran agama Islam dari Mekkah, menyebabkan Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Tetpi sebelum hijrah dilakukan, telah terjadi peristiwa yang sangat penting, yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj pada tanggal 27 Rajab tahun 621 M.
Keadaan di Madinah sangat jauh berbeda dengan di Mekkah, kalau di Mekkah, Nabi Muhammad SAW islam dimusuhi dan mendapat perlawanan sehingga tidak mungkin untuk berkembang sedangkan di Madinah Nabi Muhammad SAW disambut dengan gembira, karena kedatangan Nabi sudah lama diharapkan.
Di Madinah perkembangan agama Islam cukup pesat dan penganutnya semakin bertambah banyak. Oleh karena itu, sejak Nabi Muhammad SAW menetap di Madinah, maka masyarakat Madinah menjadi 4 golongan yaitu :
1. Kaum Muhajirin, terdiri atas orang-orang Mekkah yang ikut serta melakukan
hijrah dengan Nabi
2. Kaum Ashar, terdiri atas orang-orang Madinah yang membantu Nabi Muhammad
SAW
3. Kaum Munafiqin, terdiri dari mereka yang hanya ikut memeluk agama Islam
untuk mencari keuntungan lahiriah belaka
4. Kaum Yahudi, terdiridari golongan pengikut Nabi Musa yang mengetahui ajaran
Islam, tetapi tidak sudi meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi atau Rasul.
Setelah beberapa tahun lamanya Nabi Muhammad SAW menetap di Madinah, akhirnya turun perintah jihad, yaitu perang. Perang ini ditunjukkan untuk melawan Mekkah dan mempertahankan Ka’bah. Pertempuran sengit terjadi di gurun Badar dan Uhud (tahun 630 M). ka’bah berhasil dikuasi oleh orang-orang Islam dan akhinya penduduk Mekkah dalam waktu kurang lebih dua tahun sebagian besar Jazirah Arab telah memeluk agama islam. Orang-orang Yahudi dan Kristen yang mengakui kedaulatan agama Islam dibiarkan tetap memeluk agama mereka dan dilindungi harta dan jiwanya.
Kemenangan umat Islam membawa bangsa Arab ke arah persatuan dan kesatuan karena sudah lama bangsa itu hidup dalam perpecahan dan saling bermusuhan. Nabi Muhammad SAW berhasil penuh dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai Rasul dan pemimpin negara. Namun Nabi Muhammad SAW tidak dapat mengenyam masa kejayaan Islam, karena sesudah menegakkan dasar- dasar yang kukuh, pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 632 M beliau wafat dan dimakamkan di Madinah.
Kekhafilahan
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, muncullah para Khalifah. Fungsi mereka menggantikan jabatan Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negara, hakim dan panglima perang. Jabatan khalifah ini terus berlangsung hingga tahun 1923 M dan baru setelah Mustafa kemal Pasha menjadi kepala negara sistem kekhalifahan dihapuskan. Muhammad V merupakan Khalifah terakhir.
Khalifah-khalifah yang pernah berkuasa diantaranya :
Khalifah Abu Bakar
Ada beberapa tindakan yang penting dilaksanakan oleh Khalifah Abu Bakar
(632-634 M), diantaranya :
Mengembalikan suku-suku Arab yang murtad ke agama Islam
Membasmi nabi-nabi palsu, seperti Tulaiha, Musilama dan lain-lain
Mulainya pengumpulan lembaran surat-surat Al Qur’an
Peramalan ekspansi Islam keluar Jazirah Arab
Khalifah Umar Bin Khattab
Ada beberapa tindakan yang penting dari khafilah umar (634-644 M)
diantaranya :
Tahun Hijrah dijadikan permulaan tahun Islam yaitu tahun 622 M sama
dengan 1 tahun Hijrah
Daerah Islam diperluas sampai daerah perbatasan India dan Tripoli (di Afrika Utara). Perluasan wilayah ke Asia kecil dan Persia dilakukan oleh Khalid bin Al Walid sedang ke Afrika Utara dipimp Amir bin Al As
Akibat perluasan wilayah itu, Islam mendapat kekuatan politik di daerah- daerah yang sejak dulu mempunyai kebudayaan tinggi. Kemudian terjadi perpaduan antara agama islam dengan kebudayaan setempat, yang telah terkena pengaruh kebudayaan Yunani.
Khalifah Usman bin Affan
Jasa besar Khalifah Usman (644-656 M) pada masa pemerintahannya adalah dibukukannya secara resmi kitab suci Al Qur’an. Pekerjaan ini diserahkan kepada Zaid bin Tsabit dan susunan Al Qur’an itu hingga sekarang tidak mengalami perubahan
Khalifah Ali bin Abi Thalib
Setelah berakhirnya pertentangan-pertentangan dalam tubuh Islam maka Ali, menantu Nabi, menduduki jabatan kekhalifahan (656-661 M). Namun, keluarga Ummayah tidak menyetujui Ali sebagai khalifah dan mereka mencalonkan Mu’awaiyah (Gubernur Syria) sebagai khalifah. Akhirnya perang saudara tidak dapat dihindarkan lagi. Dalam pertempuran di Siffin (657 M) pasukan Mu’awiyah hampir dapat dihancurkan. Tetapi Mu’awiyah menggunakan tipu muslihat dan berdalih untuk mencegah pertentangan maka mengajukan supaya dibentuk Badan menjadi khalifah. Badan Pengadilan menentukan bahwa yang menang adalah Mu’awiyah, keputusan itu tidak memuaskan Ali, sehingga bentrokan berjalan terus. Pada tahun 661 Ali mati terbunuh, dengan demikian mulailah kekhalifahan keluarga Ummayah
Kekhalifahan Ummayah
Setelah kedudukan khalifah dikuasai oleh keluarga Ummayah (661-750 M). Pusat kekuasaan negara Islam dipindahkan keluar Jazirah Arab, yaitu ke Syria (Damaskus)
Pada masa ini, dasar-dasar demokrasi Arab lenyap, karena jabatan khalifah dipegang secara turun temurun. Hidup khalifah sama dengan hidup raja dengan kekuasaannya yang mutlak.
Wilayah kekuasaaan negara islam pada masa ini meliputi wilayah yang sangat luas. Ke sebelah barat sampai ke daerah spanyol dan ke sebelah timur kedaerah Pakistan dan Asia Tenggara. Perluasan wilayah ini dilakukan oleh :
Musa memimpin tentara islam menyerbu kearah barat menyusuri daerah Afrika utara samapai Maroko. Perjalanan ini dilanjutkan oleh Tarik dan berhasil menduduki semenanjung Iberia serta menguasai Spanyol (712 M)
Muhammad Kasim berhasil menduduki daerah lembah sungai Shindu (721
M)
Maslama memimpin tentara Islam menyerang konstatinopel tetapi trap serangan dapat dipukul mundur. Baru ada tahun 1453 M konstatinopel dapat dikuasai.
Pada tahun 750 M, terjadi perebutan kekuasaan terhadap keluarga Ummayah yang dilakukan oleh golongan Abbasiyah dalam perebutan kekuasaan itu, hampir seluruh keluarga Ummayah dimusnahkan. Hanya seorang yang berhasil meloloskandiri, yait Abdur Rachman.
Kekhalifahan Abbasiyah
Pada masa ini pusat kekhalifahan dipinahkan dari Damaskus ke Bagdad. Kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M) mengalami perkembangan yang cukup pesat dan pada masa pemerintahan Harun Al Rasyid (786-809 M) mencapai puncak yang gemilang. Hal ini tak lepas dari :
Bagdad merupakan pelabuhan transito dan perdagangannya maju pesat
Buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan baik dari Yunani maupun dari Persia
diterjemahan kedalam bahasa dan huruf Arab
Harun Al Rasyid mengadakan persahabatan dengan Karel Agung (Perancis).
Peristiwa ini terjadi berdasarkan situasi politik sebagai berikut :
Bagdad bermusuhan dengan Byzantium dalam memperebutkan Asia kecil Bagdad bermusuhan dengan keamiran Cordoba dalam memperebutkan daerah pantai utara Afrika dan juga karena Cordoba tidak mau mengakui kekhalifahan Bagdad
Perancis bermusuhan dengan Cordoba dalam memperebutkan daerah
Spanyol Utara, juga bermusuhan dengan Byzantium karena daerah Italia.
Dalam perebutan berikutnya kekhalifahan mengalami kemunduran. Hal ini
disebabkan oleh :
Terjadinya perebutan jabatan khalifah diantara keluarga sediri, sehingga
dalam istana terdapat kelompok-kelompok yang saling bertentangan
Pertentangan itu mengakibatkan pemerintahan pusat menjadi lemah, sehingga
daerah-daerah bagian banyak yang memerdekakan diri
Kekhalifahan Cordoba
Abdur Rachman, satu-satunya keturunan kekhalifahan Ummayah yang berhasil menyelamatkan diri dari serangan golongan Abbasiyah mendirikan kekhalifahan Cordoba di Spanyol. Ia tetap menyebut dirinya Amir dan tidak mau mengakui kekhalifahan Bagdad. Baru pada masa kekuasaan Abdur Rachman III, Cordoba menyatakan dirinya sebagai khalifah dan kedudukannya seimbang dengan kekhalifahan Bagdad (929 M).
Pada jaman kekhalifahan Cordoba ilmu Pengetahuan dan kebudayaan berkembang pesat. Masjid-masjid banyak dibangun istana dan perpustakaan didirikan ahli-ahli bangunan, tabib, pengarang, ahli-ahli fikir, ahli pakaian dan ahli-ahli kemasyarakatan banyak terdapat di Cordoba.
Kemajuan dalam bidang kebudayaan itu mendorong orang-orang Eropa untuk belajar di spanyol. Kebudayaan dari timur yang telah tinggi dan juga warisan kebudayaan Romawi danYunani Kuno yang telah hidang dari Eropa Barat, diketemukan kembali melalui Islam di spanyol
Daerah kekuasaan Islam pada perkembangan selanjutnya makin sempit. Akan tetapi, pikiran-pikiran Islam makin meluas. Apabila mula-mula mempertahankan dan meluaskan pengaruh Islam dengan pedang, tetapi pada waktu-waktu berikutnya perluasan Islam dilakukan dengan jalan damai yaitu melalui perdagangan. Melalui perdagangan inilah Islam masuk ke wilayah Indonesia.
B. PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA DAN
KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA
Teori Masuknya Islam ke Indonesia
Agama dan kebudayaan Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat di wilayah Indonesia. Perkembangan ini berawal dari masyarakat indonesia yang berada di daerah pesisir pantai dari daerah pesisir pantai inilah, agama dan kebudayaan Islam dikembangkan ke daerah pedalaman oleh para ulama. Perkembangan di daerah pedalaman ini ditujukan kepada kelangan istanan yaitu raja, keluarga raja dan kaum bangsawan. Apabila raja dan kaum bangsawan telah masuk islam, maka rakyat sangat patuh dan taat terhadap perintah-perintah rajanya.
1. Bukti-bukti Masuknya Islam ke Indonesia
Berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan di Indonesia, para ahli menafsirkan bahwa agama dan kebudayaan islam diperkirakan masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke 7 M, yaitu pada masa kekuasaan kerajaan Sriwijaya. Penafsiran para ahli ini diperkuat dengan berita-berita pada masa itu telah terdapat pedagang-pedagang Arab yang melakukan aktifitas perdagangan di Kerajaan Sriwjaya, bahkan mereka telah memiliki perkampungan tempat tinggal sementara dipusat Kerajaan Sriwijaya.
Pendapat lain membuktikan bahwa agama dan kebudayaan Islam masuk ke wilayah Indonesia dibawa oleh para pedagang Islam dari Gujarat (India). Hal ini dilihat dari penemuan unsur-unsur Islam di Indonesia yang memiliki persamaan dengan India seperti batu nisan yang dibuat oleh orang-orang kambay, Gujarat.
Berdasarkan bukti-bukti ini para ahli membuat sebuah kesimpulan bahwa agama dan kebudayaan Islam telah masuk ke Indonesia pada abad ke 7 M dibawa para pedagang dari Arab. Persia dan India (Gujarat) dan berkembang secara nyata sekitar abad ke 13 M.
2.Sumber-smber Berita Masuknya Agama dan Kebudayaan Islam di Indonesia
Masuk dan berkembangnya pengaruh agama dan kebudayaan Islam ke Indonesia diperkuat oleh beberapa sumber berita sejarah, baik yang berasal dari luar negeri maupun dari dalam negeri sumber-sumber berita itu diantaranya sebagai berikut :
Berita Arab
Berita ini diketahui melalui para padagang Arab yang telah melakukan aktifitas dalam bidang perdagangan dengan bangsa Indonesia pada masa perkembangan Kerajaan Sriwijaya (abad ke 7 M) sebagai Kerajaan maritim yang menguasai jalur pelayanan perdagangan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk Selat Malaka. Kegiatan para pedagang Arab di kerajaan Sriwijaya dibuktikan dengan adanya sebutan para pedagang Arab untuk Kerajaan Sriwijaya, yaitu Zabag, Zabay atau Sribusa.
Berita Eropa
Berita ini datangnya dari Marcopolo, ia adalah orang eropa yang pertama kali menginjakkan kakinya di wilayah Indonesia, ketika ia kembali dari Cina menuju Eropa melalui jalan laut. Ia mendapat tugas dari kaisar cina untuk mengantarkan putrinya yang dipersembahkan kepada kaisar Romawi. Dalam perjalanannya itu ia singgah di Sumatra bagian Utara. Di daerah ini ia telah menemukan adanya Kerajaan Islam, yaitu Kerajaan samudera dengan ibu kotanya Pasai.
Berita India
Dalam berita ini disebutkan bahwa para pedagang India dari Gujarat mempunyai peranan yang sangat penting didalam penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Indonesia, terutama kepada masyarakat yang terletak di daerah pesisir pantai.
Berita Cina
Berita ini berhasil diketahui melalui catatan dari Ma-Huan seorang penulis yang mengikuti perjalanan Laksamana Cheng-ho ia menyatakan melalui tulisannya bahwa sejak kira-kira tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar Islam yang bertempat tinggal dipantai utara Pulau Jawa.
Sumber-sumber dari dalam Negeri, Sumber-sumber ini diperkuat dengan
penemuan-penemuan seperti :
Penemuan sebuah batu di Leran (dekat Gresik). Batu bersirat itu menggunakan huruf dan bahasa Arab. Batu itu memuat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan yang bernama Fatimah binti Ma’mun (1028).
Makam Sultan Malikul Saleh di Sumatera Utara yang meninggal pada bulan
Ramadhan tahun 676 M atau tahun 1297 M.
Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang wafat tahun 1419. Jerat
makam didatangkan dari Gujarat dan berisi tulisan Arab.
Saluran Penyebaran Islam
Perdagangan
Sejak abad ke 7 M para pedagang Islam dari Arab, Persia dan India telah ikut ambil bagian dalam kegiatan perdagangan di Indonesia. Di samping berdagangan, para pedagang Islam dapat menyampaikan dan mengajarkan agama dan budaya Islam kepada orang lain termasuk masyarakat Indonesia.
Perkawinan
Para pedagang Islam yang melakukan kegiatan perdagangan dalam waktu yang cukup lama. Keadaan ini dapat mempererat hubungan mereka dengan penduduk pribumi atau dengan kaum bangsawan pribumi. Jalinan hubungan yang baik ini terkadang diteruskan dengan adanya perkawinan antara putri kaum pribumi dengan para pedagang islam.
Politik
Pengaruh kekuasaan seorang raja sangat besar peranannya dalam proses Islamisasi. Ketika seorang raja memeluk agama Islam maka rakyat juga akan mengikuti jejak rajanya.
Setelah tersosialisasinya agama islam, maka kepentingan politik dilakukan melalui perluasan wilayah kerajaan, yang diikuti pula dengan penyebaran agama Islam. Contohnya, Sultan Demak mengirimkan pasukannya untuk menduduki wilayah Jawa Barat dan memerintahkanuntuk menyebarkan agama Islam. Pasukan itu dipimpin oleh Fatahillah
Pendidikan
Para ulama, guru-guru, ataupun para Kyai juga memiliki peranan yang cukup
penting dalam penyebarkan agama dan budaya Islam. Meraka menyebarkan agama
Islam melalui bidang pendidikan, yaitu dengan mendirikan pondok-pondok
pesantren.
Kesenian
Saluran kesenian dapat dilakukan dengan mengadakan pertunjukkan seni gamelan seperti yang terjadi di Yogyakarta, Solo, Cirebon, dan lain-lain. Seni gamelan ini dapat mengundang masyarakat untuk berkumpul dan selanjutnya dilaksankan dakwah-dakwah keagamaan. Disamping seni gamelan juga terdapat seni wayang. Melalui cerita-cerita wayang itu para ulama menyisipkan ajaran agama Islam .Contohnya:Sunan Kalijaga memanfatkan seni wayang untuk proses Islamisasi.
Tasawuf
Para ahli tasawwuf hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu berusaha untuk menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama ditengah-tengah masyarakatnya. Para ahli tasawwuf ini biasanya memiliki keahlian yang dapat membantu kehidupan masyarakat, diantaranya ahli dalam menyembuhkan penyakit. Penyebaran agama-agama islam yang mereka lakukan disesuaikan dengan kondisi, dalam pikiran, dan budaya masyarakat pada masa itu, sehingga ajaran-ajaran Islam dapat mudah diterima oleh masyarakat. Contoh ahli tasawwuf antara lain Hamzah Fansuri di Aceh dan Sunan Panggung di Jawa.
Melalui berbagai saluran diatas, Islam dapt diterima dan berkembang pesat
sejak sekitar abad ke 13 M. Alasanya adalah sebagai berikut .
Islam bersifat terbuka.
Penyebaran islam dilakukan secara damai.
Islam tidak membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat.
Upacara-upacara dalam agama Islam dilakukan dengan sangat sederhana.
Ajaran Islam berupaya untuk menciptakan kesejahteraan kehidupan masyarakat
dengan adanya kewajiban zakat bagi yang memiliki harta.
Wali Songo
Para wali berjasa dalam menyebarkan agama dan kebudayaan Islam di Indonesia dikenal dengan sebutan Wali Songo. Lima orang wali bermukim di Jawa Timur, tiga orang di Jawa Tengah dan seorang di Jawa Barat. Para wali itu adalah sebagai berikut :
1. Maulana Malik Ibrahim yang kabarnya berasal dari Persia dan kemudian
berkedudukan di Gresik.
2. Sunan Ngampel yang semula bernama Raden Rakhmat berkedudukan di Ngampel
( Ampel ), dekat Surabaya.
3. Sunan Drajat yang semula bernama Masih Munat juga putra Raden Rakhmat
yang berkedudukan di Drajat dekat sedayu ( Surabaya ).
4. Sunan Bonang yang semula bernama Makdum Ibrahim, putra Raden Rakhmat
dan berkedudukan di Bonang, dekat Tuban.
5. Sunan Giri yang semula bernama Raden Paku, murid sunan Ngampel
berkedudukan di bukit Giri Gresik.
6. Sunan Muria yang berkedudukan di Gunung Muria di daerah Kudus.
7. Sunan Kudus yang semula bernama Udung berkedudukan di Kudus.
8. Sunan Kalijaga yang semula bernama Joko Said berkedudukan di Kadilanyu
dekat Demak.
9. Sunan Gunung Jati yang semula bernama Fatahillah atau Faletehan yang berasal dari Samudra Pasai. Ia dapat merebut Sunda Kelapa, Banten dan kemudian menetap di Gunung Jati dekat Cirebon.
Selain wali songo terdapat juga syekh Siti Jenah atau Syekh Lemah Abang. Karena mengajarkan ilmu tasawwuf, yang belum tepat pada saat itu, maka ia dihukum bakar dan tidak dianggap termasuk kedalam wali songo.
Kita juga mengenal para pemikir Islam atau sufi seperti Hamzah Fansuri, Naruddin Ar-Raniri. Mereka adalah pemikir sekaligus penulis yang produktif pada awal masa perkembangan Islam.
Penyebar agama Islam yang lain di Jawa Tengah adalah Sunan Tembayat atau Sunan Bayat. Ia berkedudukan di Klaten, ia menyebarkan agama Islam melalui pendidikan di pondok pesantren.
C. PERWUJUDAN AKULTURASI KEBUDAYAAN INDONESIA DENGAN
KEBUDAYAAN ISLAM
Seni bangunan
1. Masjid
Dipandang dari sudut arsitekturnya, masjid-masjid yang terdapat di Indonesia, terutama pada masjid-masjid kuno dengan masjid-masjid di negeri lainnya. Adapun ciri khas menjadi pada zaman Islam di Indonesia adalah sebagai berikut :
a. AtapAtap bukan berupa kubah, melainkan berupa atap tumpang, yaitu atap yang
bersusun, semakin keatas semakin kecil. Tingkatan paling atas membentuk limas. Jumlah tumpang selalu ganjil (gasal) biasanya 3 tapi ada juga yang lain seperti pada masjid Banten.
Pada surau-surau, atapnya mempunyai ciri tersendiri yaitu seperti limas tetapi tidak bersusun melainkan runcing pada puncaknya. Bentuk seperti ini sering dijumpai pada relief-relief di Jawa Timur. Hiasan yang terdapat pada puncak atap masjid dan surau disebut mustaka (biasanya terbuat dari tanah bakar atau benda lainnya)
b. Menara
Meskipun menara bukan bagian masjid yang harus ada, namun dalam seni bangunan Islam selalu merupakan bagian tambahan yang memberi keindahan. Menara pada masjid kudus da masjid banten cukup unik bentuknya. Menara masjid kudus merupakan sebuah candi jawa timur yang telah diubah dan disesuaikan penggunaannya serta diberi atap tumpang, sedang menara masjid banten adalah tambahan yang diusahakan oleh seorang pelarian belanda bernama Cardeel. Sebenarnya bentuk menara ini yang lebih tinggi dapat dijadikan mercu suar seperti pada bangunan-bangunan yang terdapat di Eropa.
c. Letak masjid
Pada umumnya masjid dirikan berdekatan dengan istana kalau disebelah utara dan selatan istana biasanya terdapat sebuah lapangan, yang dijawa disebut alun-alun, maka masjid didirikan di tepi barat alun-alun.
Masjid sering juga ditemukan di tempat-tempat keramat, yaitu tempat makam
seorang raja, wali atau ahli agama yang termasyur.
Masjid-masjid itu diantaranya :
Masjid Agung Cirebon yang bertingkat dua dan dibangun pada awal abad
ke 16 M
Masjid katangka di Sulawesi Selatan dari abad ke 17 M
Masjid-masjid yang terdapat di Jakarta seperti masjid Angke, Tambora Marunda
Masjid Agung Demak yang berdiri abad ke 16 M
Masjid Baiturahmah dibangun pada masa Sultan Iskandar
Masjid Ternate
Madjid Jepara
Madjid Agung Banten dibangun pada abad ke 16 M
2. Makam
Makam sebagai tempat kediaman yang terakhir dan abadi diusahakan pula menjadi perumahan yang sesuai dengan orang yang dikur disitu. Pemakaman para raja bentuknya seperti sebuah istana, seakan-akan makam itu disamakan dengan tempat orangnya ketika masih hidup. Makan itu juga merupakan gugusan cungkup dan jirat-jirat yang dikelompokkan menurut hubungan kekeluargaan.
Makam tertua di indonesia adalah makam fatimah binti Maimun yang telah terkenal dengan nama putri Suwari di Leran (tahun 1982 M), dan makamnya justru diberi cungkup. Makam ini mirip candi. Hal ini membuktikan bahaw pada abad ke 11 M masyarakat masih terikat pada bentuk candi.
Makam-makam kuno itu diantaranya :
Makam dan Gapura Sendang Duwur letaknya diatas bukit di daerah Tuban
Cungkup makan Putri Suwari di Lenan (Gresik)
Makam Malikul Saleh di Samudera Pasai
Makam Syekh Maulana Malik Ibrahin di Gresik
Menara Masjid Kudus, bentuknya serupa dengan candi yang terdapat di Jawa
Timur
Makam memakai Ghunongan yang ditemukan di Madura
Aksara dan seni rupa
Penulis aksara-aksara (huruf-huruf) Arab di Indonesia, biasanya dipadukan dengan seni jawa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Huruf-huruf Arab yang tertulis dengan sangat indah itu disebut dengan seni kaligrafi (seni Kath dan Kholt).
Seperti juga jenis karya seni rupa islam lainnya, perkembangan seni kaligrafi Arab di Indonesia kurang begitu pesat, apalagi dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
Penggunaan seni kaligrafi Arab sebagai hiasan di Indonesia masih sangat terbatas
Bangunan-bangunan kuno pada permulaan berdirinya Kerajaan Islam kurang
memberi peluang bagi penerapan seni kaligrafi
Bangunan masjid-masjid kuno seperti masjid Banten, Cirebon, Demak dan Kudus
kurang memperhatikan penggunaan Seni Kaligrafi Arab
Seni Kaligrafi hadir dengan kondisi yang kurang menguntungkan, tetapi dapat dikatakan tetap ada perkebangan, karena seni kaligrafi tetap diperlukan untuk berbagai macam keperluan seperti :
Untuk hiasan pada bangunan-bangunan masjid
Untuk motif hiasan batik
Untuk hiasan pada keramik
Untuk hiasan pada keris
Untuk hiasan pada batu nisan dan
Untuk hiasan pada dinding rumah
Sampai saat sekarang seni kaligrafi berkembang di Indonesia, terutama dalam
seni ukir. Seni ukir kaligrafi ini dikembangkan oleh masyarakat dari Jepara.
Seni Sastra
Perkembangan awal seni sastra Indonesia pada zaman Islam berkisar di
sekitar Selat Malaka (daerah Melayu) dan di Jawa.
Dibandingkan seni sastra zaman Hindu, hasil-hasil seni sastra zaman Islam tidak terlalu banyak yang sampai kepada kita. Hal ini disebabkan seni sastra daerah belum mampu sebagai tempat menyimpan. Mengabadikan, melangsungkan dan meneruskan hasil-hasil karya karangan sastra zaman Islam kepada kita.
Seni sastra zaman Islam yang berkembang di Indonesia sebagian besar mendapat pengaruh dari Persia, seperti cerita-cerita tentang Amir Hamzah, Bayan Budiman, 1001 malam (alf lailawa laila).
Dalam seni sastra zaman Islam di daerah melayu dikenal Syair Ken Tambunan, Lelakon Mahesa Kumitir, Syair Panji Sumirang, Cerita Wayang Kinundang, Hidayat Panji Kuda Sumirang, Hidayat Cekel Waneng Pati, Hidayat Panji Wilakusuma.
Disamping seni sastra tersebut diatas, juga terdapat kitab-kitab suluk. Kitab- kitab suluk. Kitab-kitab ini bercorak magis dan berisi ramalan-ramalan dan penetuan hari-hari baik dan buruk, serta pemberiaan-pemberiaan makna pada suatu kejadian.
Beberapa contoh dari kitab suluk adalah sebagai berikut :
Suluk Sukarsa : isinya untuk menceritakan seseorang ( Ki Sukarsa) yang mencari
ilmu untuk mendapatkank kesempurnaan
Suluk Wujil : isinya wejangan-wejangan sunan Bonang kepada Wujil (Wujil
adalah seorang kerdil bekas abdi Raja Majapaihit)
Suluk Malang Sumirang : isinya mengagungkan orang yang telah mencapai
kesempurnaan dan bersatu dengan Tuhan
Sistem Pemerintahan
Kerajaan Samudra Pasai sebagai isla yang pertama, diperkirakan berdiri pada abad ke 13 M. Kerajaan ini merupakan kerjaan pertama yang menganut siste pemerintahan yang bercorak Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya di daerah-daerah lain di Indonesia mulai bermunculan sistem pemerintahan bercorak Islam, termasuk daerah-daerah pesisir pantai. Perkembangan ini semalam bertambah pesat setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit dan berdirinya Kerajaan Demak dengan raja pertamanya Raden Patah.
Oleh karena itu, pada abad ke 16 M hampir diseluruh wilayah Indonesia
terdapat pusat-pusat pemerintahan Islamdengan rajanya bergelar Sultan.
Filsafat dan Ajaran Islam
Dalam perjalannya, Islam sebagai agama mengalami banyak perkembangan dalam alam pikiran yang pada hakikatnya untuk mengimbangi perkembangan jiwa masyarakat pendukungnya. Dalam abad ke 18 tersusun dasar-dasar ilmu fikih yaitu ilmu yang menguraikan segala macam peraturan serta yaitu ilmu yang menguraikan segala macam peraturan serta hukum guna menetapkan kewajiban-kewajiban masyarakat Islam terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia. Pada abad ke 10 M lahirlah dasar-dasar Ilmu Qalam, yaitu berisi penetapan segala abad ke 11 lahir dasar- dasar ilmu Tasawwuf, yaitu memberi jalan kepada manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan berdasarkan Cinta terhadapNya. Ketiga ilmu itulah yang menjadi dasar filsafat dan pegangan umat islam.


0 komentar:

Poskan Komentar